Dua

Dua kali, kali dimana engkau membuat duniaku runtuh untuk sesaat.
Saat dimana engkau memutuskan segalanya
Untuk mengakhiri segalanya.
Segala yang pernah terjadi diantara kita.

Dan sekarang aku hanya bisa terdiam.
Terdiam meratapi semua yang ada.
Merenungi perbuatan yang kulakukan.
Menyimpan memori kita di ingatan yang terdalam.

Aku berusaha bebas lepas.
Nyatanya meskipun ragaku berkata siap
Nuraniku masih saja menolak.
Menolak untuk lupa.

Yang aku bisa lakukan sekarang hanya menunggu.
Menunggu kapan sang waktu akan menjemput.
Menjemputku dari kesepian ini
Dan menemani aku meniti masa depan.

Puisi ini didedikasikan untuk saya dan anda. Anda yang (sempat) mewarnai kehidupan saya. Anda yang (sempat) menghiasi kehidupan saya dan anda yang (kembali) membuat saya jatuh untuk kedua kalinya. Terima kasih atas segala memori yang saya dan anda lewati bersama. Terima kasih pula atas suka dan duka, pahit dan manis yang mau anda coba bagikan pada saya. Tentunya pengalaman itu tidak akan hilang dari memori saya begitu saja.

Dan karena saya tidak mampu berkata lebih banyak lagi. Maka di akhir post ini yang ditujukan kepada anda, saya ingin mengatakan : “Terimakasih permaisuriku. Terimakasih atas segala yang engkau berikan kepadaku. Sampai kapanpun, mungkin engkau akan tetap menjadi permaisuriku dengan segala keunikannya. Tetaplah berjuang melalui pahit manisnya hidup. Dan janganlah engaku pernah menyerah. Semoga kita dapat bertemu kembali, permaisuriku.”

-axel ct-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s