UN, Mantan, Dendam, dan Pembunuhan

Hai semuanya🙂 Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik aja dan sehat selalu ya..

Jadi terakhir gua ngepost adalah sekitar satu bulan yang lalu. Yah karena bulan-bulan ini adalah bulan-bulan tersibuk bagi semua siswa kelas 3 SMA. Dimana kami dihadapkan sama soal-soal, pengayaan, dan berbagai macam kegiatan lainnya untuk memaksimalkan satu hal : UJIAN NASIONAL (UN). Iya, semua sekolah pasti sibuk menyiapkan anak kelas 3 SMAnya agar mereka mendapatkan hasil yang maksimal pada saat UN. Kalo mau dikata, sudah pasti hal ini melelahkan.. Bahkan sangat melelahkan sehingga yang lebih parahnya bisa menimbulkan kejenuhan untuk belajar para siswa (karena setiap harinya dihadapkan dengan rangkaian soal-soal baik soal latihan maupun Try Out untuk UN). Oke cerita singkat tentang UN sekian dulu, tetap semangat ya.

Kalo ada yang ngikutin berita, berita yang cukup sensasional belakangan ini adalah dimana seorang mantan pacar (iya, mantan pacar) bersama pacar barunya membunuh (iya, membunuh) mantannya sendiri. Buat gua pribadi, ini berita cukup mencengangkan. Kenapa? Karena mereka adalah orang-orang yang masih menjalankan pendidikannya di perguruan tinggi. Okelah dapat dikatakan bahwa gua masih anak SMA (bisa dibilang masih bocahlah..) tapi umur mereka sama umur gua itu ga beda jauh, jadi kami dapat dikatakan sama-sama berasal dari generasi muda, atau bisa juga dibilang generasi teknologi.

Yang selalu jadi pertanyaan gua dalam hati adalah “apakah sebegitu bencinya sampai mantan pacarnya sendiri harus disiksa dan dibunuh?” Okelah mungkin bahwa waktu mereka pacaran dulu mungkin banyak kejadian buruk atau pertentangan yang membuat mereka pisah, tapi apakah harus membunuh? Cukup aneh kalo dipikir-pikir. Tapi, coba kita ambil sisi netralnya, gua bukan si pelaku jadi gua ga tau apa yang bikin si pelakunya nekat, mungkin dia punya alasan tersendiri.

Kasus inilah yang bikin gua merenung lagi, sebenernya apa sih arti cinta? Apakah dengan berakhirnya suatu hubungan, maka hal yang pasti menyelimuti mereka adalah dendam kebencian? Segitu dendamkah dia dengan sang mantan hingga harus seperti itu? Apakah dengan adanya kasus itu, menunjukkan pertanda bahwa sebenarnya remaja belum dianggap cukup “dewasa” untuk menjalin suatu hubungan pacaran?

Silahkan pertanyaan diatas dijawab oleh diri masing-masing… Sekian..

 

-axel ct-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s