Cerita Cinta Kita (part 1)

Ketika Cinta itu terlarang, apakah yang akan kita pilih? Melarang cinta itu atau mencintai yang terlarang itu? Disaat cinta itu terbentur oleh suatu nilai moral masyarakat, bagaimanakah kita akan bertindak?

 

Aku terdiam di tengah-tengah ruangan ini. Kedua tanganku kulipat, tanda aku sedang melamunkan sesuatu.  Rasa-rasanya aku perlu menggambarkan sedikit kondisi ruanganku ini. Ruanganku adalah ruangan sebesar 4×5 meter. Ketika kalian masuk, kalian akan langsung melihat sebuah meja dan kursi. Diatas meja terdapat sebuah komputer dan setumpuk buku-buku kuliahku. Di sampingnya tergeletak kasur kecil untuk aku tidur. Inilah ruangan kosku. Ruangan aku tinggal selama aku kuliah. Aku duduk di sebuah kursi kayu, sebuah kursi kayu yang kokoh. Kursi kayu ini umurnya sudah 30 tahun, bahkan lebih tua daripada usiaku sekarang. Ya, kursi ini sudah ada sejak zaman ayahku masih bersekolah di SMA.

Oh iya, aku adalah seorang lelaki berusia 20 tahun yang saat ini sedang melangsungkan kuliah di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta. Ayahku adalah seorang dokter yang sudah 18 tahun bekerja di sebuah Rumah Sakit di daerah Jakarta Pusat dan ibuku adalah seorang model. Pasangan yang unik bukan? Mereka pertama kali bertemu saat ibuku berobat ke tempat ayahku. Aku ingat cerita ibuku bahwa saat itu tulang os.calcaneus di sebelah kirinya retak karena terpeleset ketika ibuku berlatih untuk suatu acara catwalk. Saat itu (menurut ibuku) dia kagum dengan cara ayah melakukan pengobatan terhadap tulangnya itu. Saat itu pulalah ayah mendapatkan nomor pager ibu dengan alasan agar ayah dapat memperhatikan penyakitnya itu. Sampai sekarang, aku masih suka tertawa sendiri saat mengingat bagaimana ibu menceritakan kejadian itu dengan berseri-seri dan berbunga-bunga.

Aku juga memiliki seorang adik. Seorang perempuan berusia 16 tahun. Dia sekarang berada di kelas 2 SMA. Dia bersekolah di suatu sekolah di Jakarta Pusat. Dia gadis yang manis. Tingginya sekitar 154cm dan badannya ramping. Rambutnya selalu tergerai kebawah kecuali saat dia ke sekolah. Hal itu karena sekolahnya mewajibkan siswinya untuk mengikat rambutnya. Banyak sekali anak laki-laki yang ingin mendapatkannya. Tetapi, dia selalu menolak dengan penuh senyum sambil berkata, “maaf ya, sudah ada orang yang kusukai.” Karena seringnya ia berkata seperti itu, aku sampai hafal dengan cara penolakannya.

Mengingat adikku, aku kembali tersadar alasan pertamaku melipat tangan seperti ini. Ya, alasan utama aku melipat tangan seperti ini tak lain dan tak bukan adalah karena ucapan adikku kemarin..

 

<bersambung>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s