Portugal

Jam di laptopku menunjukkan pukul 05.07 pagi. Kurang lebih setengah jam lalu, Portugal dinobatkan menjadi juara dari salah satu perhelatan sepak bola yang besar dan diadakan 4 tahun sekali, yaitu EURO (yang tahun ini otomatis bernama EURO 2016). Selamat untuk CR dan kawan kawan!!

Ya, bisa dibilang saya memang cukup mengikuti perkembangan sepakbola. Sehingga sedikit banyak saya cukup paham dan nyambung ketika diajak ngobrol mengenai pemain sepakbola.

Jika hanya disorot dari benua Eropa, saya memang penggemar Portugal dan menjagokan Portugal. Setidaknya, secara sadar saya mengikuti sepak terjang portugal mulai dari Euro 2012, Piala Dunia 2014, hingga Euro 2016. Pada Piala Dunia 2010, saya tidak begitu mengikuti Portugal karena hanya fokus pada tim favorit saya yang lain: Brazil. Yang saya ingat ketika piala dunia 2010 adalah tim ini berhasil “meratakan” tim baru, Korea Utara, dengan skor 7-1. Bahkan digadang-gadang bahwa hasil tersebut adalah hasil dari pengaturan skor. Sisanya, saya tidak mengikuti sepak terjang Portugal sebagai sebuah tim pada saat piala dunia 2010.

Pada Euro 2012, saya mulai fokus melihat Portugal. Saya ingat betul, pada saat itu Portugal seakan hanya memiliki 11 pemain dengan starting line up sebagai berikut:

Rui Patricio (GK) — Fabio Coentrao (LB), Pepe (CB), Bruno Alves (CB), Joao Pereira (RB) — Miguel Veloso (MF), Joao Moutinho (MF), Raul Meireles (MF) — Cristiano Ronaldo (LW), Nani (RW), Nelson Olivera/Helder Postiga (ST)

Dengan segitiga pemain tengahnya, serta Coentrao dan CR yang berada di sisi kiri, otomatis memang permainan Portugal terfokus di sisi kiri. Dengan skuat seperti ini, harapan Portugal memenangi Euro kandas setelah kalah adu pinalti melawan tim unggulan, Spanyol. Padahal salah satu tim yang bisa mempertahankan skor kacamata melawan Spanyol adalah Portugal. Setelah mengalahkan Portugal, Spanyol seperti melaju hampir tanpa hambatan.

Pada Piala Dunia 2014, skuat tersebut tidak banyak berubah. Namun peran Varela menjadi lebih penting. Varela menciptakan beberapa kali peluang dan mencetak gol melawan USA di menit 90+5 yang membuat Portugal terhindar dari kekalahan. Meskipun pada akhirnya Portugal harus pulang lebih cepat karena tidak lolos fase grup.

Di Euro 2016, Portugal bukanlah tim yang dijagokan untuk menjadi juara. Saya sendiri merasa seperti itu setelah menonton langsung pertandingan Portugal melawan Islandia. Hasil pertandingan itu 1-1, namun peluang yang diciptakan Portugal kurang lebih 23 dan Portugal yang memimpin laga terlebih dahulu. Ditambah dengan Islandia adalah negara kecil dan membuat kejutan demi kejutan secara tidak terduga.
Dengan hasil yang seperti itu, Portugal melanjutkan pertandingannya di grup dengan menorehkan 3 kali skor seri (0-0, 1-1, 3-3) dan berakhir di peringkat 3. Padahal apabila dilihat diatas kertas, Portugal jelas menjadi tim yang diunggulkan untuk juara di grup tersebut karena 3 tim lainnya, Austria – Islandia – Hungaria, dianggap belum selevel Portugal. Nyatanya, hasil menyatakan berbeda.

Keberuntungan Portugal tidak hanya berhenti sampai di situ. Peraturan dari UEFA yang menambah jumlah kuota tim menjadi 24 membuat beberapa tim peringkat 3 di grup lolos ke fase knock-out. Hal ini membuat Portugal lolos fase grup. Dan lebihnya, di bagian Portugal, komposisi timnya (Wales, Belgia, Kroatia dsb) jauh lebih menguntungkan dibandingkan di bagian lainnya (Inggris, Italia, Prancis, German, Spanyol dsb). Hal ini dianggap menguntungkan dan memudahkan laju Portugal menuju final.

Tapi nyatanya, Portugal harus berjuang untuk menang melawan Kroasia dan Polandia. Kemenangan melawan Kroasia dicapai dengan gol dari Quaresma di menit ke 117, dan kemenangan melawan Polandia dicapai dengan adu pinalti. Jakub Błaszczykowski (bahkan saya harus mencari di google untuk meng-copy paste nama orang ini) sebagai eksekutor adu pinalti gagal, sehingga Portugal menang 5-3 dalam adu pinalti.

Barulah pada saat melawan Wales, Portugal mulai menunjukkan taringnya dengan mengalahkan tim yang berisikan Gareth Bale, Aaron Ramsey, dkknya itu dengan skor 2-0.

Akhirnya, di final Portugal berhasil mengalahkan Prancis berkat gol tunggal Eder.

Satu hal yang bisa dipelajari dari sini adalah keberuntungan itu ada dan nyata, setidaknya bagi Portugal. Mereka bisa menjadi juara tidak lepas dari keberuntungan mereka. Selama Euro 2016 ini Portugal sangat dinaungi oleh keberuntungan seperti:

  • Tidak satu kolom dengan Prancis, Italia, German, Spanyol, bahkan Inggris pada fase knock-out.
  • Juara 3 di grup, namun lolos berkat peraturan baru UEFA.
  • Menjadi juara 3 karena gol Islandia ke gawang Austria di menit 90+2 yang memastikan kemenangan Islandia kala itu dan membawa mereka menjadi runner-up grup. Jika Portugal menjadi runner-up grup, mereka akan bertemu Inggris (bahkan Italia, Prancis, German, Spanyol) lebih awal.
  • Tendangan Gignac hanya berujung di tiang gawang
  • Diberikan free kick oleh wasit padahal bola menyentuh tangan Eder, bukan Koscielny.

Akhir kata, saya ingin menyelamati Portugal. Saya sebagai fans ikut senang karena tim favorit saya bisa juara Euro 2016, apalagi ditambah dengan cederanya Cristiano Ronaldo yang menjadi andalan sayap Portugal. Siapa yang menyangka Portugal akan menjadi juara?

Karena keberuntungan adalah bagian dari sepakbola, maka tidak dapat dipisahkan ia dari sepakbola

Selamat Portugal!!!
(Dari salah satu fansmu)

 

-axel ct-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s