Sebuah curahan hati.

[dibuat pada 1-2 Desember 2016 di sekitar jam 12 malam keatas]

1,5 bulan. Waktu untuk saya dan teman-teman seperjuangan saya berdinamika dan melangkah bersama. Waktu itu singkat bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, mungkin waktu 1,5 bulan adalah waktu yang panjang karena banyak dinamika yang terjadi di dalamnya. Buat saya, 1,5 bulan terasa pendek meskipun di dalamnya tak dapat dipungkiri terjadi dinamika-dinamika yang hebat dan fluktuatif.

1,5 bulan ini berawal ketika muncul concern mengenai keberlanjutan PEMILU Psikologi. Hari itu, saya ingat betul bahwa saya membuat sebuah multichat dengan orang-orang yang sekiranya punya concern yang sama terhadap PEMILU Psikologi. Leo dan Dyah, dua individu yang sudah bersama-sama dengan saya 3 tahun dalam kepanitiaan PEMILU ini. Kami banyak berdiskusi dan bertukar pikiran. Mungkin sejak saat itu, kami sadar bahwa kemungkinan yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan di PEMILU Psikologi adalah salah satu dari kami bertiga. Awalnya, saya tidak ada niatan apapun menjadi ketua. Saya hanya berkata “gua akan bantu lo. Tapi lo yang maju ya.” dan saya rasa itu jugalah yang mereka berdua katakan pada waktu itu

Singkat cerita, karena kami sama-sama punya kesibukkan dan setelah menimbang kesibukkan masing-masing, sayalah yang akhirnya maju menjadi ketua pelaksana PEMILU Psikologi UI 2016 ini. Dengan syarat, saya sangat berharap mereka berdua mau membantu saya menjadi perpanjangan tangan saya dalam menjalankan PEMILU ini. Dyah setuju, dan Leo pada waktu itu menolak karena kesibukkan yang ia miliki di PEMIRA UI dan DPM UI. Tetapi, saya bersikukuh untuk Leo tetap masuk ke dalam struktur karena saya merasa amat sayang jika individu sehebat dia tidak dapat masuk ke dalam struktur dan memberi banyak masukkan terhadap kepanitiaan ini. Hal tersebut yang membuat saya memutuskan untuk memiliki 2 wakil ketua pelaksana bidang teknis: Leo dan Amira. Dengan Amira sebagai core utamanya, dan Leo sebagai back-up (re: staf ahli) nya. Saya amat bersyukur Amira bersedia menerima tawaran wakil ketua pelaksana teknis karena pada awalnya saya harap-harap cemas ketika menawarkan Amira ini. Bahkan saya masih ingat isi percakapan dengan Amira yang pada waktu itu meminta saya untuk tidak berbasa-basi wakaka.

Jeje dan Listi adalah 2 individu berikutnya yang mau menjadi perpanjangan tangan saya dalam mengelola penyuratan dan keuangan di PEMILU. Dari situlah kami mulai memutuskan konsep dan merancang segalanya. Jujur, waktu yang kami miliki amat singkat. Tetapi saya tidak mencoba untuk menyalahkan siapapun. Biarkan itu menjadi evaluasi yang harapannya diperbaiki tahun depan.

Sambil berjalannya waktu, kami menemukan individu-individu yang mau membantu kami. Mungkin tidak bisa kalian (para BPH) bayangkan, tapi setiap kali salah satu dari kalian menerima tawaran yang diajukan saya mendapatkan kebahagiaan tersendiri dari hati saya. Terima kasih sudah mau menjadi salah satu sumber kebahagiaan gua ya gengs. Sampai-sampai, nama grup LINE PI dan BPH berubah-ubah hingga akhirnya nama “Keluarga Tjindana” lah yang bertahan hingga detik ini. Terima kasih Agum dan Hilma dari perlengkapan, Novi dan Iska dari e-vote, Debi dan Tika dari HDD, Shafiya dan Cimeng dari Tata Tertib, Hepinda dan Uli dari seremoni, Andin dan Marisa dari Kampanye, serta Shilla dan Belinda dari debat dan eksplorasi. Kalian adalah individu-individu yang bersedia membantu selama rangkaian PEMILU. Tak tahu lagi harus berapa kali saya harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa menjalankan PEMILU tahun ini. Harapan saya sederhana, semoga kalian benar-benar merasa bagian dari “keluarga Tjindana” ya. Semoga tidak aversif jika bertemu setelah ini karena pasti gua ga akan minta kerjaan lagi, dan yang terjadi adalah murni sebuah sapaan dari seorang individu, bukan lagi sebagai ketua pelaksana pemilu (kecuali LPJ, makanya kelarin ya guys :” bantu jeje wkwk)

Banyak pula cerita yang berlanjut hingga akhirnya muncullah 80 orang hebat yang mau membantu di PEMILU ini sesuai bidangnya. Terima kasih, dan terima kasih. Tidak paham lagi apa yang harus diucapkan selain dua kata ini :” Tanpa kalian, BPH kalian akan kewalahan, dan jika mereka kewalahan, mereka tidak akan betah disini, dan jika mereka tidak betah, sayalah yang pada akhirnya menanggung ketidak-betahan yang mereka rasakan.

Sebuah cerita pasti ada akhir, dan sebuah kepanitiaan pasti ada akhirnya juga. Terima kasih telah mau menjadi bagian dari PEMILU Psikologi UI 2016: Bystander Effect ini. Semoga apa yang kalian dapat disini bermanfaat, bermakna, dan memberi warna baru bagi kehidupan kalian.

Maaf jika selama ini gua ada melakukan banyak kesalahan kepada kalian. Maaf kepada para staf jika gua kurang bisa mengenal lebih dalam kalian satu per satu. Maaf masih kurang berinteraksi dengan kalian. Maaf juga jika masih kurang menjadi seorang pemimpin yang ideal menurut kalian. Semoga kalian tidak pernah bosan menjadi bagian dari PEMILU Psikologi UI 2016.

Terkhusus para BPH, keluarga Tjindana, yang terkasih. Maaf jika selama ini kita bertemu banyak membahas masalah pekerjaan. Maaf membuat HP kalian ramai dengan notif yang terkadang tidak penting (maaf ya punya grup malah banyakan gosipnya wkwk). Maaf jika ada salah kata dan perbuatan terhadap kalian. Maaf juga gua sebagai ketua belum bisa memberikan hal yang lebih terhadap kalian. Maaf juga bila gua dirasa kurang membantu kalian selama prosesnya dan kalian merasa tertinggalkan. Harapan gua satu dan singkat: semoga ada yang mau melanjutkan tahun depan. Siapapun orangnya, percayalah, gua dengan senang hati membantu meskipun tidak masuk ke dalam struktur.

Para PI yang tertjintah. Terima kasih karena sudah bersama-sama membangun keluarga dan membantu gua selama ini. Terima kasih juga karena kalian telah mewujudkan keluarga kecil yang romantis. Tak terhitung waktu kita ngumpul bersama dari membahas konsep hingga makan bareng. Kalian lah orang yang selalu menjadi back up gua ketika gua tidak bisa. Dan kalian lah yang membut gua yakin dan percaya bahwa gua bisa memberikan sebagian beban yang gua pikul ke kalian. Maaf bila selama prosesnya kurang bisa memimpin dengan baik. Maaf bila ada kekurangan yang membuat kalian harus kelimpungan dalam PEMILU.

Terakhir, gua sudah mencoba melakukan yang terbaik. Bila belum maksimal, mohon dimaafkan. Sudah berapa banyak kata terima kasih dan maaf dalam tulisan ini sebab gua tidak menemukan kata-kata lain yang gua bisa ucapkan.

Akhir kata, jangan lupa bikin LPJ, semangat dalam mengerjakan UASnya. Semoga PEMILU memiliki arti tersendiri dalam hidup kalian (semoga positif ya). Udah bingung mau nulis apa saking banyaknya yang harus diluapkan. Terima kasih.

Salam hangat,
Dari yang tidak lelah-lelahnya bersyukur punya kalian

 

Axel C.T.
IKM Aktif F. Psikologi UI 2014
Ketua Pelaksana PEMILU Psikologi UI 2016

Selingan

hai, post kali ini ga akan panjang-panjang kayak sebelumnya kok🙂 Sesingkat dan sesederhana satu pertanyaan :

Apakah kamu takut dengan masa depan?

Ya, sama. Aku juga takut. Sangat.

 

-axel ct-

Dua-Puluh

Awalnya, gua ngerasa menjadi manusia yang berumur 20 tahun memang adalah suatu yang spesial. Mengapa? Alasannya sederhana, menyandang angka ‘2’ di umurmu menandakan suatu perubahan yang harusnya signifikan. Hal itu karena butuh 10 tahun untuk mengubah angka ‘1’ di umurmu menjadi ‘2’. Tapi ya se-signifikan apa, gua ga paham. Gua cuma paham bahwa udah saatnya menjadi dewasa dan lebih baik dari sebelumnya.

Seketika, gua tersadar. Gua tersadar betapa arti umur 20.

Coba, disini adakah yang tau girl-group “Fifth Harmony“? Ya… Setelah gua iseng mencari tahu tentang mereka, usia mereka rata-rata adalah 20 tahunan. DUA-PULUH-TAHUNAN. Jelas gua shock dengan penemuan ini. Hal ini karena mereka sudah cukup terkenal dan mendunia di umur dua puluh tahunannya itu. Terkenalnya karena apa? Mungkin karena suaranya yang khas nan merdu. Atau mungkin karena lagu-lagunya yang cukup eksis diputar di radio-radio. Ah, tapi intinya mereka sudah melakukan sesuatu di umur 20nya mereka.

Coba lihat pemain bola seperti Calum Chambers, Gianluigi Donnarumma, dan Renato Sanches. Di umur 20nya, mereka sudah menjadi pemain sepak bola yang terkenal. Bahkan beberapa dari mereka usianya masih dibawah 20 tahun. Mereka membela tim-tim terkenal seperti Arsenal (Chambers), AC Milan (Donnarumma), dan Bayern Muenchen (Renato Sanches). Intinya, mereka sudah melakukan sesuatu di umur 20nya mereka.

Masih banyak contoh-contoh lainnya, contoh-contoh yang membuat hati kecil saya terus bertanya pada diri saya, “udah ngapain aja lu dibanding sama mereka?”

Kembali saya terdiam. Saya merasa jadi manusia yang kecil dibanding contoh-contoh tadi. Saya merasa belum berbuat banyak dibandingkan orang-orang yang tadi saya contohkan diatas. Akhirnya, sampailah saya ke tahap mempertanyakan saya dengan cara menulis di blog ini.

Sungguh, saya belum jadi apa-apa. Karena pepatah diatas langit masih ada langit bukan hanya sekadar pepatah, melainkan kenyataan.

*maaf ya sumber linknya wikipedia, soalnya demi kemudahan untuk dipahami poin-poinnya hehe makasih!

-axel ct-

Portugal

Jam di laptopku menunjukkan pukul 05.07 pagi. Kurang lebih setengah jam lalu, Portugal dinobatkan menjadi juara dari salah satu perhelatan sepak bola yang besar dan diadakan 4 tahun sekali, yaitu EURO (yang tahun ini otomatis bernama EURO 2016). Selamat untuk CR dan kawan kawan!!

Ya, bisa dibilang saya memang cukup mengikuti perkembangan sepakbola. Sehingga sedikit banyak saya cukup paham dan nyambung ketika diajak ngobrol mengenai pemain sepakbola.

Jika hanya disorot dari benua Eropa, saya memang penggemar Portugal dan menjagokan Portugal. Setidaknya, secara sadar saya mengikuti sepak terjang portugal mulai dari Euro 2012, Piala Dunia 2014, hingga Euro 2016. Pada Piala Dunia 2010, saya tidak begitu mengikuti Portugal karena hanya fokus pada tim favorit saya yang lain: Brazil. Yang saya ingat ketika piala dunia 2010 adalah tim ini berhasil “meratakan” tim baru, Korea Utara, dengan skor 7-1. Bahkan digadang-gadang bahwa hasil tersebut adalah hasil dari pengaturan skor. Sisanya, saya tidak mengikuti sepak terjang Portugal sebagai sebuah tim pada saat piala dunia 2010.

Pada Euro 2012, saya mulai fokus melihat Portugal. Saya ingat betul, pada saat itu Portugal seakan hanya memiliki 11 pemain dengan starting line up sebagai berikut:

Rui Patricio (GK) — Fabio Coentrao (LB), Pepe (CB), Bruno Alves (CB), Joao Pereira (RB) — Miguel Veloso (MF), Joao Moutinho (MF), Raul Meireles (MF) — Cristiano Ronaldo (LW), Nani (RW), Nelson Olivera/Helder Postiga (ST)

Dengan segitiga pemain tengahnya, serta Coentrao dan CR yang berada di sisi kiri, otomatis memang permainan Portugal terfokus di sisi kiri. Dengan skuat seperti ini, harapan Portugal memenangi Euro kandas setelah kalah adu pinalti melawan tim unggulan, Spanyol. Padahal salah satu tim yang bisa mempertahankan skor kacamata melawan Spanyol adalah Portugal. Setelah mengalahkan Portugal, Spanyol seperti melaju hampir tanpa hambatan.

Pada Piala Dunia 2014, skuat tersebut tidak banyak berubah. Namun peran Varela menjadi lebih penting. Varela menciptakan beberapa kali peluang dan mencetak gol melawan USA di menit 90+5 yang membuat Portugal terhindar dari kekalahan. Meskipun pada akhirnya Portugal harus pulang lebih cepat karena tidak lolos fase grup.

Di Euro 2016, Portugal bukanlah tim yang dijagokan untuk menjadi juara. Saya sendiri merasa seperti itu setelah menonton langsung pertandingan Portugal melawan Islandia. Hasil pertandingan itu 1-1, namun peluang yang diciptakan Portugal kurang lebih 23 dan Portugal yang memimpin laga terlebih dahulu. Ditambah dengan Islandia adalah negara kecil dan membuat kejutan demi kejutan secara tidak terduga.
Dengan hasil yang seperti itu, Portugal melanjutkan pertandingannya di grup dengan menorehkan 3 kali skor seri (0-0, 1-1, 3-3) dan berakhir di peringkat 3. Padahal apabila dilihat diatas kertas, Portugal jelas menjadi tim yang diunggulkan untuk juara di grup tersebut karena 3 tim lainnya, Austria – Islandia – Hungaria, dianggap belum selevel Portugal. Nyatanya, hasil menyatakan berbeda.

Keberuntungan Portugal tidak hanya berhenti sampai di situ. Peraturan dari UEFA yang menambah jumlah kuota tim menjadi 24 membuat beberapa tim peringkat 3 di grup lolos ke fase knock-out. Hal ini membuat Portugal lolos fase grup. Dan lebihnya, di bagian Portugal, komposisi timnya (Wales, Belgia, Kroatia dsb) jauh lebih menguntungkan dibandingkan di bagian lainnya (Inggris, Italia, Prancis, German, Spanyol dsb). Hal ini dianggap menguntungkan dan memudahkan laju Portugal menuju final.

Tapi nyatanya, Portugal harus berjuang untuk menang melawan Kroasia dan Polandia. Kemenangan melawan Kroasia dicapai dengan gol dari Quaresma di menit ke 117, dan kemenangan melawan Polandia dicapai dengan adu pinalti. Jakub Błaszczykowski (bahkan saya harus mencari di google untuk meng-copy paste nama orang ini) sebagai eksekutor adu pinalti gagal, sehingga Portugal menang 5-3 dalam adu pinalti.

Barulah pada saat melawan Wales, Portugal mulai menunjukkan taringnya dengan mengalahkan tim yang berisikan Gareth Bale, Aaron Ramsey, dkknya itu dengan skor 2-0.

Akhirnya, di final Portugal berhasil mengalahkan Prancis berkat gol tunggal Eder.

Satu hal yang bisa dipelajari dari sini adalah keberuntungan itu ada dan nyata, setidaknya bagi Portugal. Mereka bisa menjadi juara tidak lepas dari keberuntungan mereka. Selama Euro 2016 ini Portugal sangat dinaungi oleh keberuntungan seperti:

  • Tidak satu kolom dengan Prancis, Italia, German, Spanyol, bahkan Inggris pada fase knock-out.
  • Juara 3 di grup, namun lolos berkat peraturan baru UEFA.
  • Menjadi juara 3 karena gol Islandia ke gawang Austria di menit 90+2 yang memastikan kemenangan Islandia kala itu dan membawa mereka menjadi runner-up grup. Jika Portugal menjadi runner-up grup, mereka akan bertemu Inggris (bahkan Italia, Prancis, German, Spanyol) lebih awal.
  • Tendangan Gignac hanya berujung di tiang gawang
  • Diberikan free kick oleh wasit padahal bola menyentuh tangan Eder, bukan Koscielny.

Akhir kata, saya ingin menyelamati Portugal. Saya sebagai fans ikut senang karena tim favorit saya bisa juara Euro 2016, apalagi ditambah dengan cederanya Cristiano Ronaldo yang menjadi andalan sayap Portugal. Siapa yang menyangka Portugal akan menjadi juara?

Karena keberuntungan adalah bagian dari sepakbola, maka tidak dapat dipisahkan ia dari sepakbola

Selamat Portugal!!!
(Dari salah satu fansmu)

 

-axel ct-

 

Sebuah Cerita

[04:29 AM]

Di pagi hari ini, aku belum bisa tidur. Sehingga sambil mendengarkan lagu weslife-if I let you go aku termenung dan rasanya ingin menulis. Memang waktunya ga tepat banget sih.. Karena belum tidur, dan bahkan mata udah terbiasa melek jam segini meskipun harusnya sudah terlelap ke alam mimpi dari tadi. Jangan diikutin ya guys :” ga baik buat kesehatan haha..

Bertambah dewasa… Apa artinya? Apakah berarti akan banyak tanggung jawab yang harus dipikul? Rasa-rasanya pikiran seperti itu tidak salah juga. Atau bahkan bertambah dewasa hanya berarti bertambahnya 1 tahun kehidupan yang ditandai dengan umur yang kau bawa dan kau banggakan itu. Hm.. rasa-rasanya tidak salah juga.. Ah sudahlah, aku tidak pandai banyak bercakap mengenai apa itu bertambah dewasa… Nyatanya di pagi hari ini, akupun masih berkutat dengan pikiran “apa artinya bertambah dewasa?” Klise bukan rasanya apabila aku bercengkrama panjang lebar di tulisan ini mengenai artinya bertambah dewasa, sedangkan aku sendiri belum paham apa rasa dan artinya menjadi dewasa. Bahkan aku merasa diriku pun belum pantas dibilang dewasa.

Satu hal yang bisa kupastikan: semakin dewasa, kamu akan menyadari satu hal… Bahwa semua berubah. Ya, makin bertambah umurku aku makin tersadar bahwa tidak ada satu hal pun yang konstan. Semua hal berubah… Dahulu mungkin westlife menjadi salah satu rajanya boyband “barat”. Bahkan sekarang westlife sudah tidak terdengar karena memang sudah bubar. Siapa anak 80an (atau bahkan 90an) yang tidak tahu The Beatles? Sekarang akan sangat unik melihat orang yang mendalami The Beatles (karena aku pun “belajar” dari temanku yang “dicekokin” oleh orang tuanya).

Tidak hanya dari musik. Pola pikir pun berubah… Dari yang dulu pacaran karena hanya suka karena ia cantik/ganteng. Sekarang pacaran ya orientasinya masa depan.. Karena ga mungkin pacaran ya gitu-gitu aja. Atau mungkin, kerja keras. Dulu ketika kecil boleh saja berpikir bahwa “saya dapat menguasai pelajaran tanpa harus belajar dengan keras”. Nyatanya sekarang ketika tidak belajar, ya jangan heran nilai C atau bahkan nilai D muncul di laporan nilaimu.

Ya… semua hal di dunia ini berubah.. Mulai secara fisik dari cara berpakaian misalnya, hingga secara pola pikir, atau bahkan tingkah laku. Guru zaman dahulu saya rasa tidak akan masalah ketika harus memukul anak muridnya. Guru sekarang (mungkin) akan berpikir dua kali ketika harus bermain secara fisik. Itu hanya contoh kecil saja…. Zaman sekarang, kalau tidak punya gadget rasanya hidup akan kosong. Padahal rasa-rasanya zaman 80an, gadget bahkan belum booming. Jika ingin berteman, ya keluar. Jika ingin bermain, ya keluar. Sekarang.. semua ada di genggamanmu.

Manusia berubah.. Aku berubah, dia berubah, mereka berubah, dan bahkan kamu berubah. Berubah ke arah yang mana? Hanya diri sendiri yang bisa merefleksikannya. Orang lain bisa menilai, tapi orang lain tak akan bisa memutuskan ke arah mana kamu akan berubah. Orang lain bisa menghasut atau membantu, tapi toh tetap yang punya pilihan ya yang menjalankan perubahan itu. Terkadang yang menyeramkan adalah ketika kamu merasa tidak perlu berubah, maka dunia yang akan menamparmu dan berteriak, “berubah, sudah saatnya berubah!” Lucu bukan.

[04:44 AM]

Kulihat jam di laptopku.. Lagu westlife yang kuputar sudah habis dari tadi, ingin mencari lagu yang sealunan, tapi aku sadar kedua tanganku tidak ingin diganggu ketika sedang berkarya di blog ini. Tadinya aku ingin mengakhiri dengan kalimat-kalimat gombalan yang (kayaknya engga) bermutu (banget) seperti,
“meskipun dunia berubah, posisi kamu di hati aku tetap ga berubah.” atau
“semua boleh berubah, tapi aku toh tetap cinta kamu apa adanya.”

Nyatanya, aku sendiri tergidik ketika mengetik kedua hal tersebut. Alisku mengernyit. Dan rasanya amat sangat tidak cocok kuakhiri post yang (cukup) panjang ini dengan gombalan yang (engga) bermutu (banget) itu.

[04:48 AM]

Ah… rasanya aku perlu tidur… Terlalu banyak pikiran-pikiran tak perlu yang mengawang-awang di alam pikirku. Perutku pun terasa lapar, dan kakiku masih kedinginan.

Pada akhirnya,
aku ya aku,
kamu ya kamu,
dia ya dia,
satu persamaan kita dan hanya satu,
kita hidup di satu dunia.

-axel ct-