Melangkahi Bumi

Ketika kutatap langit biru
Disana terdapat banyak awan putih
Berjalan beriringan dan bersamaan
Atau bahkan bergandengan tangan secara diam-diam

Ketika angin sepoi-sepoi berhembus
Saat itu pulalah sang daun menyambut
Bergerak mengikuti kemana arah angin bertiup
Bagaikan kangen bertemu setelah lama tak jumpa

Ketika aku berjalan menyusuri pantai
Saat itu kulihat berjuta-juta pasir
Pasir yang selalu siap ketika laut datang
Menjemput mereka untuk bermain bersama di lautan

Tapi entah kenapa
Ketika kususuri jalan setapak
Tanah-tanah tampak tidak bahagia
Karena diriku merusak kebersamaan mereka

Kadang aku bermimpi
Mimpi dimana aku adalah lautan
Lautan yang terbentang luas
Yang menerima semuanya dengan penuh keberanian

Kadang pula aku berangan
Bahwa aku adalah langit biru
Langit yang menaungi setiap manusia
Langit yang tidak pernah lelah untuk melindungi

Pernah pula aku menggumam
Memiliki sahabat bagaikan daun merindukan angin
Berbagi keceriaan, canda tawa, dan kegembiraan
Menorehkan senyum ketika keduanya bertemu

Tapi, kembali lagi mimpi adalah mimpi
Ketika aku kembali ke dunia ini
Aku pun tersadar akan satu hal yang pasti
Aku, hanyalah seorang manusia yang menyusuri jalan setapak

-axel ct-

Lagi Banyak yang Bisa Di-post-kan

Haloo semuanya :) ga terasa yaa bentar lagi udah taon baru lagi hehe.. Ya, kadang waktu berlari lebih cepat dari apa yang bisa kita bayangkan ya hehe..

Pertama-tama, turut berduka cita untuk semua korban pesawat AirAsia yang baru jatuh. Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan kuat ya. Tuhan gaakan ngasih cobaan lebih dari apa yang kita mampu kok :)

Kedua, udah mau taon baru nih.. Kira-kira pada punya resolusi buat taon baru ga nih? haha sehari sebelum tahun baru biasanya adalah saat orang dimana melihat kembali perjalanan setahun yang telah berlalu dan bersiap menyongsong hari dan tahun yang baru. Taon lalu, mungkin gua sempet me-review sedikit tentang apa yang udah gua lakukan selama setahun. Taon ini engga yaa maaf :( hehe soalnya sejujurnya gua adalah salah satu ornpang yang hampir gapernah buat resolusi taon baru. Emm jadi yaa gimana bisa tercapai kalo dibuat aja engga haha.. Eh tapi gua ga menyarankan yang laen untuk ga bikin loh, resolusi taon baru itu baik banget buat jadi indikator keberhasilan kita selama tahun itu, mungkin bisa disertai dengan reward dan punishment juga hehe..

Ketiga, hidup itu selalu unik. Kadang ia menampar kita ketika kita merasa tenang, kadang hidup juga yang menguatkan kita dalam kelemahan kita. Jadi, jangan pernah lelah sama hidup ya kawan-kawan, masih banyak yang mengingingkan hidup itu. Semangaaat :D

Terakhir banget nih, semoga cita-cita kalian di tahun yang baru tercapai yaa :) jangan cuma diwacanakan doang, ayo dilakukan! Segala sesuatu gaakan bisa berhasil kalo gaada yang memulai :)

Salam,

-axel ct-

Catatan Harian Mahasiswa Baru: Jaket Kuning dan Makara (Biru Muda)

“Axel kuliah dimana sekarang?” “Axel kelas berapa? Udah kuliah ya? DImana?” “Wah udah gede ya. Masuk mana? ambil apa?”

Kalau orang sudah lama tidak bertemu denganku, ketiga pertanyaan diatas sudah sangat wajar apabila orang itu berkesempatan untuk bertemu denganku. Terkadang, tidak hanya orang yang sudah lama tak bertemu denganku saja yang menanyakan hal itu. Orang yang -mungkin- dapat dikatakan sering bertemu denganku pun tidak jarang bertanya seperti itu. Buatku itu pertanyaan yang sangat wajar untuk ditanyakan, entah tujuannya hanya sekedar berbasa-basi ataupun memang benar pertanyaan itu dilandasi dari rasa penasaran karena sudah lama tak berjumpa. Respon yang kuberikan atas pertanyaan itu pun tidak jauh-jauh dari satu kalimat dibawah ini.

“Masuk UI :) Ambil Psikologi :)” *Sengaja kupasang emoticon senyum yang menggambarkan keadaan wajahku ketika menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban tersebut*

Jawaban dari respon yang kuberikan pun bermacam-macam, tetapi (sejauh yang kutahu) mereka semua mengatakan bahwa masuk UI adalah suatu keberhasilan dan kebanggaan yang patut diapresiasi. Tidak jarang ucapan selamat berhamburan dari mulut mereka kepadaku, yang pada akhirnya kujawab dengan melempar senyum di bibirku, dan mengucap kata terimakasih ataupun sekedar ‘he-he-he’ belaka.

Memang buatku, masuk UI bisa dibilang suatu prestasi hidup. Apalagi ketika acara universitas untuk mahasiswa baru, tidak jarang kami digadang-gadang sebagai ‘mahasiswa terpilih’. Kurang bangga apa aku mendengar hal itu. Memperoleh ‘jakun’ yang disertai dengan makara biru muda yang kujahit di kiri, melakukan kegiatan perkuliahan di Depok, dan dapat dengan bangga menyebut Universitas Indonesia (bukan Universitas yang ada di Indonesia) sebagai almamaterku adalah beberapa kelebihan yang kudapatkan karena terdaftar sebagai sivitas akademika Universitas Indonesia.

TETAPI….
Hal itu tidak cukup sampai disitu. Buatku hanya dengan menjadi mahasiswa UI belaka tidak akan membuatku bangga. Aku harus bisa menjadikan UI sebagai fasilitas untuk diriku berkembang. Aku harus bisa menjadi manusia yang utuh ketika keluar dari UI nanti dan bergabung dalam masyarakat. Aku harus bisa menunjukkan hasil terbaik yang bisa kubuat dan apabila ditanya, barulah aku bisa menjawab dengan bangga bahwa inilah hasil didikan Universitas Indonesia. Terakhir, aku harus bisa memberikan buah yang kudapat dari UI kepada diriku, almamaterku, dan kepada masyarakat.

Buatku hanya dengan masuk UI, belum sepenuhnya aku merasakan manfaat dari UI. Aku harus bisa berkembang dan mengepakkan sayapku setinggi langit untuk bisa bangga mengatakan “AKU ADALAH MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA SEUTUHNYA”

p.s. Catatan kecil ini dibuat pada suatu malam ketika pikiran sang penulis sedang buntu dalam mengerjakan tugas paper atau makalahnya.

-axel ct-

“Psikologi UI Tercinta” (Tugas Mata Kuliah Penulisan Ilmiah)

Tema : Tulisan Naratif – KAMABA

“Psikologi UI Tercinta”

Suatu malam saat aku sedang membuka blog mengenai informasi kegiatan mahasiswa baru, sebuah post muncul. Kira-kira isi post tersebut adalah “Sabtu, 16 Agustus 2014 jam 12.45 sudah harus berkumpul di alfamart.” “Akhirnya muncul juga, kira-kira bakal seperti apa ya?” adalah pikiran pertamaku saat membaca kalimat tersebut. Memang sebelumnya kami sudah dibagi-bagi menurut kelompok dan sudah menyiapkan sebuah buku khusus dimana halaman depannya harus berbuffalo biru dan harus sama satu angkatan dengan format yang sudah disediakan, tetapi aku sama sekali belum memiliki gambaran mengenai rangkaian kegiatan yang bisa dibilang akan memberi warna pada kehidupan perkuliahanku. Mungkin ini warna pertama yang ditorehkan di lembar kehidupan perkuliahanku di kampus berjaket kuning dan bermakara biru muda ini. Sampai saat aku menulis ini, rangkaian kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) ini hampir berakhir. Kadang aku hanya bisa tersenyum kecil mengingat hal-hal yang telah kulewati bersama teman-teman satu angkatanku, angkatan 2014 makara biru muda ini. Banyak kesan yang mungkin akan coba sedikit kubagi kepada teman-teman semuanya.

“Kak, boleh wawancara ga kak?” Itu adalah pertanyaanku kepada sang kakak yang sampai saat ini membuatku sangat terinspirasi. Kakak yang mungkin membuatku terkagum dan mendapatkan sesuatu yang baru untuk memulai menorehkan lembaran warna di bab perkuliahanku pada buku kehidupanku. Memang tugas wawancara adalah salah satu tugas yang diberikan kepada kami sebagai salah satu dari berbagai macam tugas di kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) ini. Lebih tepatnya dapat dikatakan bahwa tugas ini diberikan pada saat kami, para mahasiswa baru, sedang menjalani kegiatan proses penyesuaian diri atau yang bisa disebut dengan kegiatan prosesi. Tidak kusangka, dari kegiatan yang mungkin dapat dibilang sederhana ini aku mendapatkan sesuatu yang sangat bermakna. Untuk identitas kakak itu, tidak perlulah sepertinya kujelaskan panjang lebar disini, cukup yang tahu hanya aku dan beberapa temanku yang ikut mewawancarai kakak itu bersamaku. Yang ingin kusampaikan disini, kadang sesuatu yang sederhana akan berdampak besar dalam kehidupan kita, dimana dalam hal ini adalah wawancara dengan kakak kelas yang menginspirasiku dan sedikit banyak menentukan arah tujuan perkuliahanku ke depannya.

Ketika seseorang mahasiswa baru berhadapan dengan senior saat pertama kali mengikuti perkuliahan, hal yang dipikirkan pertama kali adalah push-up. Menurutku itu tidak salah, bahkan mungkin terlalu benar. Hal itu karena ketika kami, para mahasiswa baru, berhadapan dengan senior, pasti akan ada nuansa push-up yang memang tujuannya untuk membimbing kami ke arah yang lebih baik. Tetapi, yang kukagetkan sampai sekarang adalah tidak adanya hal tersebut di markas makara biru muda ini. Berkaitan dengan poin ini, aku sedikit menggabungkan dengan wawancaraku dengan sang kakak di poin atas, dimana sang kakak itu menjelaskan maksud dan tujuan dari rangkaian kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) ini. “Wah ternyata disini beda.” Itu mungkin kata-kata yang dapat mewakilkan pemikiranku tentang rangkaian acara kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) ini. Aku tak menyangka bahwa acara ini sangat dipersiapkan dengan sedimikian rupa dan sematang mungkin untuk membimbing kami, para mahasiswa baru, dalam mengikuti perkuliahan di kampus berjaket kuning dan bermakara biru muda ini. Salut kakak-kakak, berikutnya doakan kami agar kami yang bisa mengemban tugas untuk membimbing mahasiswa baru ini dengan sepenuh hati kami dan dengan persiapan yang sematang kakak-kakak lakukan saat rangkaian kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) 2014 ini.

“Jadi sebenarnya, apa yang membuat kamu kagum dengan kegiatan mahasiswa baru (KAMABA) yang diselenggarakan kampus kuning sub makara biru muda ini?” Ketika nanti, mungkin suatu saat ada orang yang bertanya kepadaku seperti itu, dengan tidak ragu-ragu dan sepenuh hati akan kujawab, “Disini beda. Aku tidak diajarkan untuk hanya push-up tanpa makna yang jelas. Aku juga tidak diberi sesuatu yang mustahil kulakukan sebagai mahasiswa baru. Aku disini belajar, bahwa dengan cinta kakak-kakak kepada kami, mereka menghantarkan kami, memberi sentuhan warna indah pertama pada bab perkuliahan buku kehidupan kami dan aku bangga. Aku bangga akan hal itu dan aku bangga karena aku dapat menjalani kegiatan satu kali seumur hidupku di sini, di kampus jaket kuning sub makara biru muda ini.”

-axel ct-

Kesibukan dan Perkuliahan

Hai semuanya :) Pertama-tama maaf banget bagi yang menunggu cerita part-2nya haha (kalo ada yang nunggu). Gua minta maaf karena gua belom sempet nyelesaiin ceritanya, karena belum ada waktu satu haripun untuk bernafas ketika memasuki masa perkuliahan ini. Jadi, sekali lagi bagi yang nunggu ceritanya mohon sabar ya :)

Jadi ceritanya kan udah jadi mahasiswa nih (cie mahasiswa…. haha), titel ‘mahasiswa’ itu bukan cuma jadi kebanggaan atau cuma jadi keren-kerenan doang bahwa kita adalah seorang yang akan mengejar titel ‘sarjana’ tetapi titel ‘mahasiswa’ itu diikuti dengan tugas yang amat sangat banyak dan kesibukan-kesibukan lain yang membuat kita jadi harus sangat pandai membagi-bagi waktu.

Oke semuanya, gua gabisa nulis banyak-banyak karena harus kembali ke kesibukan gua hehe.. Nah, tapi di post berikutnya akan gua coba tuliskan sesuatu. Apasih sesuatunya? Jadi itu adalah tugas kuliah gua sebenernya, tapi temanya adalah kegiatan mahasiswa baru di tempat perkuliahan gua sekarang hehe.. Jadi, silahkan dibaca :)

-axel ct-

Cerita Cinta Kita (part 1)

Ketika Cinta itu terlarang, apakah yang akan kita pilih? Melarang cinta itu atau mencintai yang terlarang itu? Disaat cinta itu terbentur oleh suatu nilai moral masyarakat, bagaimanakah kita akan bertindak?

 

Aku terdiam di tengah-tengah ruangan ini. Kedua tanganku kulipat, tanda aku sedang melamunkan sesuatu.  Rasa-rasanya aku perlu menggambarkan sedikit kondisi ruanganku ini. Ruanganku adalah ruangan sebesar 4×5 meter. Ketika kalian masuk, kalian akan langsung melihat sebuah meja dan kursi. Diatas meja terdapat sebuah komputer dan setumpuk buku-buku kuliahku. Di sampingnya tergeletak kasur kecil untuk aku tidur. Inilah ruangan kosku. Ruangan aku tinggal selama aku kuliah. Aku duduk di sebuah kursi kayu, sebuah kursi kayu yang kokoh. Kursi kayu ini umurnya sudah 30 tahun, bahkan lebih tua daripada usiaku sekarang. Ya, kursi ini sudah ada sejak zaman ayahku masih bersekolah di SMA.

Oh iya, aku adalah seorang lelaki berusia 20 tahun yang saat ini sedang melangsungkan kuliah di salah satu universitas swasta terkenal di Jakarta. Ayahku adalah seorang dokter yang sudah 18 tahun bekerja di sebuah Rumah Sakit di daerah Jakarta Pusat dan ibuku adalah seorang model. Pasangan yang unik bukan? Mereka pertama kali bertemu saat ibuku berobat ke tempat ayahku. Aku ingat cerita ibuku bahwa saat itu tulang os.calcaneus di sebelah kirinya retak karena terpeleset ketika ibuku berlatih untuk suatu acara catwalk. Saat itu (menurut ibuku) dia kagum dengan cara ayah melakukan pengobatan terhadap tulangnya itu. Saat itu pulalah ayah mendapatkan nomor pager ibu dengan alasan agar ayah dapat memperhatikan penyakitnya itu. Sampai sekarang, aku masih suka tertawa sendiri saat mengingat bagaimana ibu menceritakan kejadian itu dengan berseri-seri dan berbunga-bunga.

Aku juga memiliki seorang adik. Seorang perempuan berusia 16 tahun. Dia sekarang berada di kelas 2 SMA. Dia bersekolah di suatu sekolah di Jakarta Pusat. Dia gadis yang manis. Tingginya sekitar 154cm dan badannya ramping. Rambutnya selalu tergerai kebawah kecuali saat dia ke sekolah. Hal itu karena sekolahnya mewajibkan siswinya untuk mengikat rambutnya. Banyak sekali anak laki-laki yang ingin mendapatkannya. Tetapi, dia selalu menolak dengan penuh senyum sambil berkata, “maaf ya, sudah ada orang yang kusukai.” Karena seringnya ia berkata seperti itu, aku sampai hafal dengan cara penolakannya.

Mengingat adikku, aku kembali tersadar alasan pertamaku melipat tangan seperti ini. Ya, alasan utama aku melipat tangan seperti ini tak lain dan tak bukan adalah karena ucapan adikku kemarin..

 

<bersambung>

Sebuah Post di Bulan Mei

Hai semuanya.. Udah lama ya gaada post baru disini haha.. Jadi, kalo di post sebelumnya gua bilang bahwa semua siswa kelas 3 SMA sedang sibuk-sibuknya menghadapi sesuatu yang bernama UJIAN NASIONAL, kali ini gua bisa bilang bahwa semuanya itu udah terlewati… Kami hanya tinggal menunggu hasil kelulusan kami yang pada bulan ini diumumkan oleh pihak pemerintah dan sekolah

Nah, karena nganggur nih ya (bukan bermaksud bikin ngiri adek kelas atau kakak kelas kok hehe) jadi gua pengen nyoba bercerita.. Jadi kalo misalnya post setelah ini tiba2 tokoh akunya itu berdialog atau segala macem, itu cuma sebuah cerita memakai sudut pandang orang pertama haha.. Jadi, jangan bingung ya! Oh iya, cerita ini.. gua belom tau bakal imajinasi atau cerita nyata.. Ditunggu aja ya haha..

Keep Happy always, like Pharell (?)

 

-axel ct-