Nikmat Dunia yang (tak) Didustakan

Sudah dua hari ini hujan menemani malamku. Entah malammu dan malamnya juga, yang pasti sudah dua hari ini hujan mampir dengan derasnya di malamku. Malam di Kukusan dekat Universitas Indonesia. Mungkin ini yang jadi inspirasiku untuk menulis sebuah puisi, temanya tentu saja.. Hujan.

[3:05 AM, Beji, Depok — Dekat Universitas Indonesia]

Sudah lama aku mencintai hujan,
mencintai betapa mendadaknya kau datang dalam hidupku,
menyadari betapa cepatnya kamu menghilang dalam hidupku.

Hujan selalu menandai dirinya dengan angin semilir.
Angin yang diam-diam datang lalu pergi,
angin yang diam-diam pergi lalu datang untuk lagi-lagi pergi.

Meneteskan butiran-butiran air ke tapak bumi.
Menyirami dedaunan pada pohon-pohon disini.
Jatuh tepat diatas aspal dan semen yang ada di bumi.
Berkumpul dan membuat genangan sambil bercanda tawa kesana-kemari.

Aku cinta hujan.
Cinta dengan datangnya yang tiba-tiba,
cinta juga dengan perginya yang juga tiba-tiba.

Kadang membawa petir sebagai teman,
Seringkali menimbulkan genangan karena kamu butuh teman,
Hingga akhirnya kembali pergi karena sudah puas bermain bersama teman.

Butir demi butir,
tetes demi tetes.

Kadang satu jam,
kadang dua jam,
bisa juga berjam-jam.

Tertawa senang saat membasahi bumi,
cekikikan saat melihat orang gelagapan kesana kemari,
senyum gembira saat petani bersorak-sorai,
terbahak-bahak saat daun berjoget ketika kau sirami.

Aku cinta hujan,
cinta segala kemendadakannya,
cinta segala nikmat yang diciptakan di mukaku saat bilur-bilur air diteteskannya,
cinta dengan…

Ah sudahlah puisiku kusudahkan.
Selamat menikmati harimu hujan.
Nikmat dirimu tak akan kudustakan.
Aku tetap cinta kamu, hujan.

Pada akhirnya… Kita tak akan bisa bohong. Mungkin kamu menikmati cerahnya matahari yang menyinari. Toh aku suka hujan, ah salah, aku cinta hujan. Cinta tiap kedatangannya. Mencintai banyak hal dari dirinya. Menanti kedatangannya yang tiba-tiba dan tak diduga, meratapi kepergiannya yang tiba-tiba juga. Terima kasih sudah mau mampir, hujan. Kapan-kapan mampir lagi ya. Menemani aku yang selalu menunggu kehadiranmu.

Aku mau kembali, kembali menikmati dingin yang kau ciptakan. Meski dengan sedikit mengeluh “jir dingin juga ya kamar ini.” Toh aku tetap cinta suaramu, bentukmu, “wajah”mu.

Terima kasih hujan, jangan pergi cepat-cepat.

Dari yang mencintaimu,

-axel ct-

 

Sebuah Memoar

Suatu hari aku berjalan melewati lorong kenangan kita. Aku terdiam dan menangis sesaat. Sebuah memori yang telah lampau kembali muncul di kepalaku dan aku hanya bisa terdiam. Waktu itu kamu hanya bilang, “Sayang, maaf. Aku hamil sama cowok lain.” Kini sambil menghapus air mataku, kubuka LINE-ku dan kulihat kamu sudah menjadi ibu dari ketiga anakmu dengan dia.

Sebelah Tangan, ya?

Kutuliskan kata per kata dan kurangkainya jadi sebuah kalimat. Kujelaskan betapa indahnya engkau, terutama kemunculanmu di dalam hidupku. Kuukir semua percakapan kita yang sudah pernah berlalu. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk sekarang dan masa depan. Akan terus kulakukan meskipun aku sadar bahwa cara apapun yang akan kulakukan tidak akan bisa menggapaimu.

Cerita 5 kalimat sepertinya menarik untuk ditulis. Jadi, izinkan saya (sekarang dan kedepannya) sekali-kali menulis cerita yang berbasis 5 kalimat saja. 5 kalimat, tidak lebih dan tidak kurang.

-axel ct-

Sebuah Perasaan

I’m Feeling Blue

Pernah dengar dengan 3 kata diatas? Kata itu diucapkan oleh orang-orang (terutama orang-orang di luar sana) ketika mereka merasa sedih. Karena basically kalimat ‘feeling blue’ memiliki makna yang sama dengan sad. Buat saya pribadi, entah kenapa feeling blue tidak akan saya ucapkan ketika saya merasa sedih. Hal itu karena ketika saya merasa sedih, yang akan saya ucapkan adalah saya merasa sedih. Efek sampingnya, saya memaknai feeling blue ini dengan makna lain. Mungkin jika didefinisikan, arti dari feeling blue menurut definisi saya sendiri adalah galau, campur sedih, campur miris, dan campuran lainnya.

Kurang lebih itulah mood saya pada malam ini dan pada saat menuliskan sesuatu di blog ini. Alasannya sederhana, saya baru saja mengikuti seleksi lomba debat untuk maju menjadi kontingen yang mewakili fakultas saya. Setiap kali saya mengikuti seleksi, ada saja rasa blue yang menghampiri saya secara tiba-tiba. Setelah saya coba merenung-renung, mungkin saya bisa coba jabarkan jawabannya.

Setiap kali selesai melakukan apa yang dinamakan dengan debat, saya seringkali merasa blue. Jawabannya sederhana ketika ditanya mengapa saya bisa merasa seperti itu. Tiap kali selesai melakukan debat (baik itu latihan, maupun seleksi) saya selalu disadarkan dan ditampar dengan realita yang pahit. Realita yang selalu berbunyi “liat, ini orang-orang yang lebih hebat dari lu. Sok-sokan sih lu ikut ginian, ga selevel tau.” Percaya tidak percaya, kalimat-kalimat semacam itulah yang seringkali muncul dalam diri saya ketika saya selesai berurusan dengan si debat ini.

Saya sejujurnya bukan orang yang betah membaca jurnal terlalu lama dan banyak. Meskipun sudah hampir 3 tahun saya kuliah disini, saya tidak pernah berteman baik dengan yang namanya terminologi. Jika ada ujian yang berkaitan dengan hal tersebut dan ujian tersebut isian atau esai, niscaya nilai saya paling tinggi mungkin hanya akan menjadi nilai rata-rata satu angkatan. Hal ini yang kemudian membuat saya selalu bertanya tiap kali ikut debat, “kenapa lu sok pinter dan sok ngide mau ikut ginian?” Bahkan jika sedang dalam kondisi kronis atau akut, saya bisa-bisa mempertanyakan kembali apakah saya adalah orang yang salah jurusan atau tidak.

Dihadapkan dengan orang-0rang hebat yang ikut debat, saya selalu merasa inferior. Saya merasa bahwa saya tidak sehebat mereka, dan wajar jika saya tidak diterima. Mungkin itulah yang membuat saya tidak terlihat down di hadapan orang-orang lain. Semacam blessing in disguise bukan? hehe

So, yeah, right now.. I’m feeling blue.

 

-axel ct-

Menulis /me·nu·lis/

menulis/me·nu·lis/ v 1 membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya): anak-anak sedang belajar ~; melukis baginya merupakan kesenangan yang dimulai sebelum ia belajar ~; 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan: ~ roman (cerita), mengarang cerita; ~ surat membuat surat; berkirim surat; 3 menggambar; melukis: ~ gambar pemandangan; 4 membatik (kain): lebih mudah mencetak daripada ~ kain; (KBBI daring, 2016)

“Yakin ga mau nulis sesuatu tentang tahun baru di blog? Biasanya kan nulis, apakek.”
“Ga tau, tahun ini ga berminat sepertinya. Meskipun banyak kejadian kejadian yang bisa digaris bawahi tahun ini, cuma tau sendiri lah buat orang (feeling) kayak kita mah kalo udah ga niat ya ga niat aja.”
“Bener juga sih. Lagian emang arti nulis itu sendiri apa sih?”
“Arti nulis? Hmm……. Bener juga, apa ya?”

Secuplik percakapan dengan diriku sendiri itulah yang akhirnya membawaku pada sebuah permenungan (yang mungkin ga penting sebenernya). Tadinya aku terpikir akan menuliskan sebuah tulisan (apapun bentuknya) ke dalam blog ini dengan tujuan memperingati pergantian tahun yang tak bisa dihindari tiap tahunnya. Rencana awalnya, aku ingin menyicil tulisan mengenai tahun baru sehingga bisa dipublikasikan tepat di tanggal 31 Desember 2016. Nyatanya, sampai detik ini ide itu tidak terlaksana.

Permenungan saya dengan batin saya kembali menguat setelah membaca linimasa LINE. Di situ dikatakan bahwa teman saya memperbaharui blognya serta mengisinya dengan untaian huruf-huruf yang dirangkai. Dari situ, batin saya seolah tergerak untuk menulis (karena mungkin memang ia juga adalah penulis yang memang hebat sehingga dapat menggugah emosi orang yang membacanya) tetapi sisi batin saya yang lainnya seolah tetap tidak ingin menulis.

Kembali ke pertanyaan awal, apa arti menulis? Setidaknya, salah seorang temanku pernah berkata, kurang lebih seperti ini perkataannya, “lo akan bisa tau orang kayak gimana setelah lo baca tulisan dia.” Buatku, hal ini mungkin benar dan mungkin salah. Toh pada akhirnya cara individu untuk mengenali seseorang kembali ke diri masing-masing, bukan? Awalnya, aku pribadi berpikir bahwa menulis dan membaca adalah 2 sinergi. Yin dan Yang. Hitam dan putih. Ketika orang bisa membaca, pastilah dia akan bisa menulis. Sebaliknya, seorang penulis pasti akan memiliki banyak sumber referensi untuk dia baca.

Lantas aku berpikir sejenak. Rasa-rasanya teori ala-ala yang kubuat ini tidak masuk akal ketika aku melihat banyak kondisi di lapangan. Ada individu yang sangat rajin membaca, tetapi hampir tidak pernah menulis dan akan kesulitan mendapatkan tugas untuk menulis. Sama halnya, seorang yang terbiasa menulis tidak akan betah jika diminta untuk membaca dalam waktu yang cukup lama. Lucu bukan semesta kita? Hehe.

Pada akhirnya, akupun belum bisa mendefinisikan menulis. Definisi dari kamus yang kudapat terlalu baku. Terkadang (bahkan sering) aku memang tidak suka dengan definisi yang sudah paten, dan berusaha mencari definisi sendiri. Bayangkan saya, bisa-bisanya aku mempertanyakan siapa aku padahal sudah jelas-jelas banyak definisi tentang aku yang bisa dipahami: Anak orang tua ku, Manusia, Laki-laki, Ciptaan Tuhan, hasil evolusi. Lantas, tidak semua bagian diriku merasa terpuaskan dengan jawaban itu.

“Ah! Ngelantur saja kamu!”
“Biarlah, selama mimpi dan pemikiran masih gratis hehe. Toh kembali ke dalam dirimu sendiri sudah menjadi waktu favoritmu bukan?”
“Benar juga sih. Dasar introvert! Mencari alasan saja kamu kan buat membenarkan bahwa kamu introvert?”
“Hehehehehe”
“Udah deh, kan bentar lagi tahun baru, mending mikirin deh udah ngapain aja? Belum banyak kan? Masih sok-sok ngelantur lagi!”
“Hahaha 😦 iya juga… Yaudah kasih aku waktu buat nyelesaiin tulisanku di blogku ya. Biar kita lakukan sesuatu abis ini, deal?”
“Deal.”

Begitulah…. Semoga tahun baru membawa makna dan semangat baru bagi kita semua. Memang kita tidak akan bisa mengganti masa lalu, dan buat apa diganti? Toh aku yakin, semua memorimu akan memberikan makna dan warna tersendiri dalam kehidupanmu. Udah dikasih pilihan warna juga, banyak lagi! Hehe.

Bye 2016, terimakasih telah menemani perjalanan hidupku yang masih panjaaaaaaaaaang.
Halo 2017, gantian ya temani aku. Karena kamu teman yang paling gigih menemani aku, meskipun aku begini. Hehe

-axel ct-

Kisah Setengah Malam

"jalur 1 akan segera masuk Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk Commuter Line tujuan Bogor......"

Aku hanya terdiam, setengah duduk di tempat yang telah disediakan. Menatap pekat hitamnya langit malam yang setengah tertutup oleh atap stasiun. Sambil duduk terdiam, aku melihat sekelilingku. Di sebelah kiriku terpisah 1 pilar terdapat penumpang yang masih menunggu keretanya. Di sebelah kananku cukup jauh kulihat petugas keamanan dalam (PKD) sedang berdiri dan sedikit berjalan sambil menjalankan tugasnya. Di sebrang belakangku juga terdapat penumpang yang sedang menunggu keretanya datang. Ah… inikah malam?

Aku duduk terdiam, termangu sebentar, lalu membuka handphone yang kumasukkan ke dalam tas mengingat sedang kucharge. Entah aku juga bingung apa yang harus kulakukan, sehingga meskipun HP yang kugenggam di tangan kanan ini menampilkan berbagai macam cahaya, warna, berita, dan sesisip kehidupan orang lain aku tetap merasa kosong. Ah… inikah malam?

"jalur 1 akan segera masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor......"

Aku suka suasana malam. Meski malam dan siang berdampingan, aku tetap lebih suka malam. Mungkin itu sebabnya aku lebih dapat merasa hidup dan memang lebih terlihat hidup ketika malam hari. Aku merasa malam dan siang hari sangat berbeda. Memang, di siang hari aku dapat menemui banyak orang dan semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, termasuk aku, dan itu adalah suatu kemutlakan dan kewajiban. Tetapi malam, malam dan segala gelap pekat serta keheningannya membawa sesuatu bagiku. Aku merasa dapat melihat dunia lebih utuh, dibanding siang.

"jalur 1 akan segera masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor......
Tujuan Jakarta Kota sudah berangkat Depok Baru. 
Jakarta Kota berikutnya masuk Depok"

“Keretaku sudah dekat,” gumamku dalam hati. Aku kembali termenung. Reflective mood. Mungkin itulah nama familiar dari apa yang sedang kurasakan. Malam selalu bisa membuatku kembali ke dalam diriku sendiri. Menelusuri perjalanan-perjalanan hidup yang telah kulewati, serta menginternalisasi nilai serta warna pada bagian-bagian hidupku sebelumnya sambil bertanya “mau diberi warna apa lagi ini kedepannya?” Malam memang unik. Membuatku lebih melihat segala sesuatunya berbeda.

"Commuter Line Jakarta Kota sudah berangkat Pondok Cina. 
Jakarta Kota berikutnya masuk Depok Baru"

“Seperti biasa, kalau yang pertama ramai akan kutunggu yang kedua,” tekadku dalam batin.

"jalur 2 akan segera masuk Commuter Line tujuan Jakarta Kota. 
Jalur 2 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Jakarta Kota......"

Ternyata sepi. Kusiapkan diriku mencari tempat duduk yang kosong. Sebelum akhirnya aku berangkat. Terima kasih, malam.

"Pintu akan segera ditutup......"

[Stasiun Universitas Indonesia, 9 Desember 2016, 22.15an]

-axel ct-