Sebuah Perasaan

I’m Feeling Blue

Pernah dengar dengan 3 kata diatas? Kata itu diucapkan oleh orang-orang (terutama orang-orang di luar sana) ketika mereka merasa sedih. Karena basically kalimat ‘feeling blue’ memiliki makna yang sama dengan sad. Buat saya pribadi, entah kenapa feeling blue tidak akan saya ucapkan ketika saya merasa sedih. Hal itu karena ketika saya merasa sedih, yang akan saya ucapkan adalah saya merasa sedih. Efek sampingnya, saya memaknai feeling blue ini dengan makna lain. Mungkin jika didefinisikan, arti dari feeling blue menurut definisi saya sendiri adalah galau, campur sedih, campur miris, dan campuran lainnya.

Kurang lebih itulah mood saya pada malam ini dan pada saat menuliskan sesuatu di blog ini. Alasannya sederhana, saya baru saja mengikuti seleksi lomba debat untuk maju menjadi kontingen yang mewakili fakultas saya. Setiap kali saya mengikuti seleksi, ada saja rasa blue yang menghampiri saya secara tiba-tiba. Setelah saya coba merenung-renung, mungkin saya bisa coba jabarkan jawabannya.

Setiap kali selesai melakukan apa yang dinamakan dengan debat, saya seringkali merasa blue. Jawabannya sederhana ketika ditanya mengapa saya bisa merasa seperti itu. Tiap kali selesai melakukan debat (baik itu latihan, maupun seleksi) saya selalu disadarkan dan ditampar dengan realita yang pahit. Realita yang selalu berbunyi “liat, ini orang-orang yang lebih hebat dari lu. Sok-sokan sih lu ikut ginian, ga selevel tau.” Percaya tidak percaya, kalimat-kalimat semacam itulah yang seringkali muncul dalam diri saya ketika saya selesai berurusan dengan si debat ini.

Saya sejujurnya bukan orang yang betah membaca jurnal terlalu lama dan banyak. Meskipun sudah hampir 3 tahun saya kuliah disini, saya tidak pernah berteman baik dengan yang namanya terminologi. Jika ada ujian yang berkaitan dengan hal tersebut dan ujian tersebut isian atau esai, niscaya nilai saya paling tinggi mungkin hanya akan menjadi nilai rata-rata satu angkatan. Hal ini yang kemudian membuat saya selalu bertanya tiap kali ikut debat, “kenapa lu sok pinter dan sok ngide mau ikut ginian?” Bahkan jika sedang dalam kondisi kronis atau akut, saya bisa-bisa mempertanyakan kembali apakah saya adalah orang yang salah jurusan atau tidak.

Dihadapkan dengan orang-0rang hebat yang ikut debat, saya selalu merasa inferior. Saya merasa bahwa saya tidak sehebat mereka, dan wajar jika saya tidak diterima. Mungkin itulah yang membuat saya tidak terlihat down di hadapan orang-orang lain. Semacam blessing in disguise bukan? hehe

So, yeah, right now.. I’m feeling blue.

 

-axel ct-

Menulis /me·nu·lis/

menulis/me·nu·lis/ v 1 membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya): anak-anak sedang belajar ~; melukis baginya merupakan kesenangan yang dimulai sebelum ia belajar ~; 2 melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan: ~ roman (cerita), mengarang cerita; ~ surat membuat surat; berkirim surat; 3 menggambar; melukis: ~ gambar pemandangan; 4 membatik (kain): lebih mudah mencetak daripada ~ kain; (KBBI daring, 2016)

“Yakin ga mau nulis sesuatu tentang tahun baru di blog? Biasanya kan nulis, apakek.”
“Ga tau, tahun ini ga berminat sepertinya. Meskipun banyak kejadian kejadian yang bisa digaris bawahi tahun ini, cuma tau sendiri lah buat orang (feeling) kayak kita mah kalo udah ga niat ya ga niat aja.”
“Bener juga sih. Lagian emang arti nulis itu sendiri apa sih?”
“Arti nulis? Hmm……. Bener juga, apa ya?”

Secuplik percakapan dengan diriku sendiri itulah yang akhirnya membawaku pada sebuah permenungan (yang mungkin ga penting sebenernya). Tadinya aku terpikir akan menuliskan sebuah tulisan (apapun bentuknya) ke dalam blog ini dengan tujuan memperingati pergantian tahun yang tak bisa dihindari tiap tahunnya. Rencana awalnya, aku ingin menyicil tulisan mengenai tahun baru sehingga bisa dipublikasikan tepat di tanggal 31 Desember 2016. Nyatanya, sampai detik ini ide itu tidak terlaksana.

Permenungan saya dengan batin saya kembali menguat setelah membaca linimasa LINE. Di situ dikatakan bahwa teman saya memperbaharui blognya serta mengisinya dengan untaian huruf-huruf yang dirangkai. Dari situ, batin saya seolah tergerak untuk menulis (karena mungkin memang ia juga adalah penulis yang memang hebat sehingga dapat menggugah emosi orang yang membacanya) tetapi sisi batin saya yang lainnya seolah tetap tidak ingin menulis.

Kembali ke pertanyaan awal, apa arti menulis? Setidaknya, salah seorang temanku pernah berkata, kurang lebih seperti ini perkataannya, “lo akan bisa tau orang kayak gimana setelah lo baca tulisan dia.” Buatku, hal ini mungkin benar dan mungkin salah. Toh pada akhirnya cara individu untuk mengenali seseorang kembali ke diri masing-masing, bukan? Awalnya, aku pribadi berpikir bahwa menulis dan membaca adalah 2 sinergi. Yin dan Yang. Hitam dan putih. Ketika orang bisa membaca, pastilah dia akan bisa menulis. Sebaliknya, seorang penulis pasti akan memiliki banyak sumber referensi untuk dia baca.

Lantas aku berpikir sejenak. Rasa-rasanya teori ala-ala yang kubuat ini tidak masuk akal ketika aku melihat banyak kondisi di lapangan. Ada individu yang sangat rajin membaca, tetapi hampir tidak pernah menulis dan akan kesulitan mendapatkan tugas untuk menulis. Sama halnya, seorang yang terbiasa menulis tidak akan betah jika diminta untuk membaca dalam waktu yang cukup lama. Lucu bukan semesta kita? Hehe.

Pada akhirnya, akupun belum bisa mendefinisikan menulis. Definisi dari kamus yang kudapat terlalu baku. Terkadang (bahkan sering) aku memang tidak suka dengan definisi yang sudah paten, dan berusaha mencari definisi sendiri. Bayangkan saya, bisa-bisanya aku mempertanyakan siapa aku padahal sudah jelas-jelas banyak definisi tentang aku yang bisa dipahami: Anak orang tua ku, Manusia, Laki-laki, Ciptaan Tuhan, hasil evolusi. Lantas, tidak semua bagian diriku merasa terpuaskan dengan jawaban itu.

“Ah! Ngelantur saja kamu!”
“Biarlah, selama mimpi dan pemikiran masih gratis hehe. Toh kembali ke dalam dirimu sendiri sudah menjadi waktu favoritmu bukan?”
“Benar juga sih. Dasar introvert! Mencari alasan saja kamu kan buat membenarkan bahwa kamu introvert?”
“Hehehehehe”
“Udah deh, kan bentar lagi tahun baru, mending mikirin deh udah ngapain aja? Belum banyak kan? Masih sok-sok ngelantur lagi!”
“Hahaha 😦 iya juga… Yaudah kasih aku waktu buat nyelesaiin tulisanku di blogku ya. Biar kita lakukan sesuatu abis ini, deal?”
“Deal.”

Begitulah…. Semoga tahun baru membawa makna dan semangat baru bagi kita semua. Memang kita tidak akan bisa mengganti masa lalu, dan buat apa diganti? Toh aku yakin, semua memorimu akan memberikan makna dan warna tersendiri dalam kehidupanmu. Udah dikasih pilihan warna juga, banyak lagi! Hehe.

Bye 2016, terimakasih telah menemani perjalanan hidupku yang masih panjaaaaaaaaaang.
Halo 2017, gantian ya temani aku. Karena kamu teman yang paling gigih menemani aku, meskipun aku begini. Hehe

-axel ct-

Kisah Setengah Malam

"jalur 1 akan segera masuk Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk Commuter Line tujuan Bogor......"

Aku hanya terdiam, setengah duduk di tempat yang telah disediakan. Menatap pekat hitamnya langit malam yang setengah tertutup oleh atap stasiun. Sambil duduk terdiam, aku melihat sekelilingku. Di sebelah kiriku terpisah 1 pilar terdapat penumpang yang masih menunggu keretanya. Di sebelah kananku cukup jauh kulihat petugas keamanan dalam (PKD) sedang berdiri dan sedikit berjalan sambil menjalankan tugasnya. Di sebrang belakangku juga terdapat penumpang yang sedang menunggu keretanya datang. Ah… inikah malam?

Aku duduk terdiam, termangu sebentar, lalu membuka handphone yang kumasukkan ke dalam tas mengingat sedang kucharge. Entah aku juga bingung apa yang harus kulakukan, sehingga meskipun HP yang kugenggam di tangan kanan ini menampilkan berbagai macam cahaya, warna, berita, dan sesisip kehidupan orang lain aku tetap merasa kosong. Ah… inikah malam?

"jalur 1 akan segera masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor......"

Aku suka suasana malam. Meski malam dan siang berdampingan, aku tetap lebih suka malam. Mungkin itu sebabnya aku lebih dapat merasa hidup dan memang lebih terlihat hidup ketika malam hari. Aku merasa malam dan siang hari sangat berbeda. Memang, di siang hari aku dapat menemui banyak orang dan semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, termasuk aku, dan itu adalah suatu kemutlakan dan kewajiban. Tetapi malam, malam dan segala gelap pekat serta keheningannya membawa sesuatu bagiku. Aku merasa dapat melihat dunia lebih utuh, dibanding siang.

"jalur 1 akan segera masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor. 
Jalur 1 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Bogor......
Tujuan Jakarta Kota sudah berangkat Depok Baru. 
Jakarta Kota berikutnya masuk Depok"

“Keretaku sudah dekat,” gumamku dalam hati. Aku kembali termenung. Reflective mood. Mungkin itulah nama familiar dari apa yang sedang kurasakan. Malam selalu bisa membuatku kembali ke dalam diriku sendiri. Menelusuri perjalanan-perjalanan hidup yang telah kulewati, serta menginternalisasi nilai serta warna pada bagian-bagian hidupku sebelumnya sambil bertanya “mau diberi warna apa lagi ini kedepannya?” Malam memang unik. Membuatku lebih melihat segala sesuatunya berbeda.

"Commuter Line Jakarta Kota sudah berangkat Pondok Cina. 
Jakarta Kota berikutnya masuk Depok Baru"

“Seperti biasa, kalau yang pertama ramai akan kutunggu yang kedua,” tekadku dalam batin.

"jalur 2 akan segera masuk Commuter Line tujuan Jakarta Kota. 
Jalur 2 akan masuk kembali Commuter Line tujuan Jakarta Kota......"

Ternyata sepi. Kusiapkan diriku mencari tempat duduk yang kosong. Sebelum akhirnya aku berangkat. Terima kasih, malam.

"Pintu akan segera ditutup......"

[Stasiun Universitas Indonesia, 9 Desember 2016, 22.15an]

-axel ct-

Sebuah curahan hati.

[dibuat pada 1-2 Desember 2016 di sekitar jam 12 malam keatas]

1,5 bulan. Waktu untuk saya dan teman-teman seperjuangan saya berdinamika dan melangkah bersama. Waktu itu singkat bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, mungkin waktu 1,5 bulan adalah waktu yang panjang karena banyak dinamika yang terjadi di dalamnya. Buat saya, 1,5 bulan terasa pendek meskipun di dalamnya tak dapat dipungkiri terjadi dinamika-dinamika yang hebat dan fluktuatif.

1,5 bulan ini berawal ketika muncul concern mengenai keberlanjutan PEMILU Psikologi. Hari itu, saya ingat betul bahwa saya membuat sebuah multichat dengan orang-orang yang sekiranya punya concern yang sama terhadap PEMILU Psikologi. Leo dan Dyah, dua individu yang sudah bersama-sama dengan saya 3 tahun dalam kepanitiaan PEMILU ini. Kami banyak berdiskusi dan bertukar pikiran. Mungkin sejak saat itu, kami sadar bahwa kemungkinan yang akan melanjutkan tonggak kepemimpinan di PEMILU Psikologi adalah salah satu dari kami bertiga. Awalnya, saya tidak ada niatan apapun menjadi ketua. Saya hanya berkata “gua akan bantu lo. Tapi lo yang maju ya.” dan saya rasa itu jugalah yang mereka berdua katakan pada waktu itu

Singkat cerita, karena kami sama-sama punya kesibukkan dan setelah menimbang kesibukkan masing-masing, sayalah yang akhirnya maju menjadi ketua pelaksana PEMILU Psikologi UI 2016 ini. Dengan syarat, saya sangat berharap mereka berdua mau membantu saya menjadi perpanjangan tangan saya dalam menjalankan PEMILU ini. Dyah setuju, dan Leo pada waktu itu menolak karena kesibukkan yang ia miliki di PEMIRA UI dan DPM UI. Tetapi, saya bersikukuh untuk Leo tetap masuk ke dalam struktur karena saya merasa amat sayang jika individu sehebat dia tidak dapat masuk ke dalam struktur dan memberi banyak masukkan terhadap kepanitiaan ini. Hal tersebut yang membuat saya memutuskan untuk memiliki 2 wakil ketua pelaksana bidang teknis: Leo dan Amira. Dengan Amira sebagai core utamanya, dan Leo sebagai back-up (re: staf ahli) nya. Saya amat bersyukur Amira bersedia menerima tawaran wakil ketua pelaksana teknis karena pada awalnya saya harap-harap cemas ketika menawarkan Amira ini. Bahkan saya masih ingat isi percakapan dengan Amira yang pada waktu itu meminta saya untuk tidak berbasa-basi wakaka.

Jeje dan Listi adalah 2 individu berikutnya yang mau menjadi perpanjangan tangan saya dalam mengelola penyuratan dan keuangan di PEMILU. Dari situlah kami mulai memutuskan konsep dan merancang segalanya. Jujur, waktu yang kami miliki amat singkat. Tetapi saya tidak mencoba untuk menyalahkan siapapun. Biarkan itu menjadi evaluasi yang harapannya diperbaiki tahun depan.

Sambil berjalannya waktu, kami menemukan individu-individu yang mau membantu kami. Mungkin tidak bisa kalian (para BPH) bayangkan, tapi setiap kali salah satu dari kalian menerima tawaran yang diajukan saya mendapatkan kebahagiaan tersendiri dari hati saya. Terima kasih sudah mau menjadi salah satu sumber kebahagiaan gua ya gengs. Sampai-sampai, nama grup LINE PI dan BPH berubah-ubah hingga akhirnya nama “Keluarga Tjindana” lah yang bertahan hingga detik ini. Terima kasih Agum dan Hilma dari perlengkapan, Novi dan Iska dari e-vote, Debi dan Tika dari HDD, Shafiya dan Cimeng dari Tata Tertib, Hepinda dan Uli dari seremoni, Andin dan Marisa dari Kampanye, serta Shilla dan Belinda dari debat dan eksplorasi. Kalian adalah individu-individu yang bersedia membantu selama rangkaian PEMILU. Tak tahu lagi harus berapa kali saya harus mengucapkan terima kasih kepada mereka. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa menjalankan PEMILU tahun ini. Harapan saya sederhana, semoga kalian benar-benar merasa bagian dari “keluarga Tjindana” ya. Semoga tidak aversif jika bertemu setelah ini karena pasti gua ga akan minta kerjaan lagi, dan yang terjadi adalah murni sebuah sapaan dari seorang individu, bukan lagi sebagai ketua pelaksana pemilu (kecuali LPJ, makanya kelarin ya guys :” bantu jeje wkwk)

Banyak pula cerita yang berlanjut hingga akhirnya muncullah 80 orang hebat yang mau membantu di PEMILU ini sesuai bidangnya. Terima kasih, dan terima kasih. Tidak paham lagi apa yang harus diucapkan selain dua kata ini :” Tanpa kalian, BPH kalian akan kewalahan, dan jika mereka kewalahan, mereka tidak akan betah disini, dan jika mereka tidak betah, sayalah yang pada akhirnya menanggung ketidak-betahan yang mereka rasakan.

Sebuah cerita pasti ada akhir, dan sebuah kepanitiaan pasti ada akhirnya juga. Terima kasih telah mau menjadi bagian dari PEMILU Psikologi UI 2016: Bystander Effect ini. Semoga apa yang kalian dapat disini bermanfaat, bermakna, dan memberi warna baru bagi kehidupan kalian.

Maaf jika selama ini gua ada melakukan banyak kesalahan kepada kalian. Maaf kepada para staf jika gua kurang bisa mengenal lebih dalam kalian satu per satu. Maaf masih kurang berinteraksi dengan kalian. Maaf juga jika masih kurang menjadi seorang pemimpin yang ideal menurut kalian. Semoga kalian tidak pernah bosan menjadi bagian dari PEMILU Psikologi UI 2016.

Terkhusus para BPH, keluarga Tjindana, yang terkasih. Maaf jika selama ini kita bertemu banyak membahas masalah pekerjaan. Maaf membuat HP kalian ramai dengan notif yang terkadang tidak penting (maaf ya punya grup malah banyakan gosipnya wkwk). Maaf jika ada salah kata dan perbuatan terhadap kalian. Maaf juga gua sebagai ketua belum bisa memberikan hal yang lebih terhadap kalian. Maaf juga bila gua dirasa kurang membantu kalian selama prosesnya dan kalian merasa tertinggalkan. Harapan gua satu dan singkat: semoga ada yang mau melanjutkan tahun depan. Siapapun orangnya, percayalah, gua dengan senang hati membantu meskipun tidak masuk ke dalam struktur.

Para PI yang tertjintah. Terima kasih karena sudah bersama-sama membangun keluarga dan membantu gua selama ini. Terima kasih juga karena kalian telah mewujudkan keluarga kecil yang romantis. Tak terhitung waktu kita ngumpul bersama dari membahas konsep hingga makan bareng. Kalian lah orang yang selalu menjadi back up gua ketika gua tidak bisa. Dan kalian lah yang membut gua yakin dan percaya bahwa gua bisa memberikan sebagian beban yang gua pikul ke kalian. Maaf bila selama prosesnya kurang bisa memimpin dengan baik. Maaf bila ada kekurangan yang membuat kalian harus kelimpungan dalam PEMILU.

Terakhir, gua sudah mencoba melakukan yang terbaik. Bila belum maksimal, mohon dimaafkan. Sudah berapa banyak kata terima kasih dan maaf dalam tulisan ini sebab gua tidak menemukan kata-kata lain yang gua bisa ucapkan.

Akhir kata, jangan lupa bikin LPJ, semangat dalam mengerjakan UASnya. Semoga PEMILU memiliki arti tersendiri dalam hidup kalian (semoga positif ya). Udah bingung mau nulis apa saking banyaknya yang harus diluapkan. Terima kasih.

Salam hangat,
Dari yang tidak lelah-lelahnya bersyukur punya kalian

 

Axel C.T.
IKM Aktif F. Psikologi UI 2014
Ketua Pelaksana PEMILU Psikologi UI 2016

Selingan

hai, post kali ini ga akan panjang-panjang kayak sebelumnya kok 🙂 Sesingkat dan sesederhana satu pertanyaan :

Apakah kamu takut dengan masa depan?

Ya, sama. Aku juga takut. Sangat.

 

-axel ct-